Grand TeoriManajemen & Etika Bisnis

Stakeholder

Stakeholder Theory

Teori Stakeholder menyatakan organisasi harus mengelola kepentingan semua pemangku kepentingan, bukan hanya pemegang saham. Banyak digunakan untuk meneliti tata kelola destinasi dan pariwisata berkelanjutan.

Pencetus

R. Edward Freeman

Tahun

1984

Sumber Primer

Freeman, R. E. (1984). Strategic Management: A Stakeholder Approach. Boston: Pitman.

Deskripsi Teori

Stakeholder Theory dikemukakan oleh R. Edward Freeman (1984) dan menyatakan bahwa organisasi harus menciptakan nilai bagi semua pemangku kepentingan (stakeholders) — pihak yang dapat memengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan organisasi — bukan hanya pemegang saham.

"A stakeholder is any group or individual who can affect or is affected by the achievement of the organization's objectives." — Freeman (1984)

Dalam pariwisata, teori ini sangat relevan karena destinasi adalah sistem terbuka dengan banyak aktor saling terkait (pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, wisatawan, LSM). Sautter & Leisen (1999) mengadaptasinya menjadi model perencanaan pariwisata berbasis pemangku kepentingan yang banyak dirujuk dalam riset pariwisata berkelanjutan dan tata kelola destinasi.


Asumsi Dasar Stakeholder Theory

  1. Pluralitas kepentingan: Organisasi melayani beragam pemangku kepentingan dengan kepentingan berbeda.
  2. Saling ketergantungan: Keberhasilan jangka panjang bergantung pada hubungan dengan semua pihak.
  3. Penciptaan nilai bersama: Nilai diciptakan melalui kolaborasi, bukan trade-off semata.
  4. Legitimasi & partisipasi: Keterlibatan pemangku kepentingan meningkatkan keberlanjutan keputusan.

Komponen Utama Stakeholder Theory

1. Identifikasi Pemangku Kepentingan

  • Internal: pemilik, manajer, karyawan
  • Eksternal: pemerintah, masyarakat lokal, wisatawan, pemasok, LSM, akademisi

2. Atribut Pemangku Kepentingan (Mitchell dkk.)

  • Power (kekuasaan): kemampuan memengaruhi
  • Legitimacy (legitimasi): klaim yang sah
  • Urgency (urgensi): tuntutan yang mendesak

3. Salience (Tingkat Kepentingan)

Prioritas perhatian organisasi terhadap tiap pemangku kepentingan berdasarkan kombinasi atribut.

4. Kolaborasi & Tata Kelola

Mekanisme partisipasi, koordinasi, dan resolusi konflik antar pemangku kepentingan.


Model Stakeholder (Konteks Destinasi)

        Pemerintah        Masyarakat lokal
              \              /
               \            /
   Pelaku  ──►  DESTINASI  ◄── Wisatawan
   usaha       (sistem        
               terbuka)   ◄── LSM / akademisi
              /            \
        Pemasok          Media

Penggunaan Stakeholder Theory dalam Penelitian Hotel & Pariwisata

Sebagai Teori Utama

  • Menjelaskan tata kelola destinasi dan kolaborasi antar-aktor
  • Mengkaji partisipasi masyarakat dalam pariwisata berkelanjutan

Sebagai Teori Pendukung

  • Dipadukan dengan CSR/ESG perhotelan
  • Dipadukan dengan collaboration theory untuk perencanaan partisipatif

Jenis Penelitian yang Cocok

  • Kualitatif (studi kasus): pemetaan pemangku kepentingan dan dinamika konflik
  • Stakeholder/network analysis: memetakan relasi dan kekuasaan
  • Mixed Methods: survei persepsi + wawancara mendalam

Contoh Variabel/Fokus di Konteks Hotel & Pariwisata

KonteksFokus Pemangku KepentinganIsu Utama
Tata kelola destinasiPemerintah–usaha–masyarakatKoordinasi & konflik
Pariwisata berkelanjutanMasyarakat & LSMPartisipasi & legitimasi
CSR hotelKaryawan, komunitas, tamuPenciptaan nilai bersama
Heritage tourismPengelola–warga–wisatawanKonflik vertikal/horizontal

Kritik & Keterbatasan Stakeholder Theory

  1. Identifikasi pemangku kepentingan kabur — sulit menentukan siapa yang "berhak" diprioritaskan.
  2. Konflik kepentingan sulit diselesaikan — teori kurang memberi panduan operasional saat kepentingan bertabrakan.
  3. Relasi kekuasaan timpang — kelompok lemah (mis. masyarakat marginal) sering terpinggirkan.
  4. Sulit diukur — "nilai bagi pemangku kepentingan" sulit dikuantifikasi.

Respons terhadap Kritik

Kerangka salience (Mitchell, Agle & Wood) memberi cara memprioritaskan pemangku kepentingan, dan studi pariwisata terkini mengembangkan kerangka tata kelola berbasis rantai nilai untuk memperjelas peran dan kolaborasi tiap aktor dalam mencapai keberlanjutan.


Penelitian Menggunakan Stakeholder Theory di Bidang Hotel & Pariwisata

  • Perencanaan pariwisata: model perencanaan berbasis pemangku kepentingan (Sautter & Leisen, 1999)
  • Tata kelola destinasi berkelanjutan: pemetaan peran dan jejaring aktor
  • Ekowisata: kolaborasi pemangku kepentingan untuk pembangunan berkelanjutan
  • Konflik destinasi warisan: konflik vertikal (pusat–daerah) dan horizontal antar-aktor lokal

Referensi Primer & Kunci

  1. Freeman, R. E. (1984). Strategic Management: A Stakeholder Approach. Boston: Pitman. (Sumber utama — wajib dikutip)
  2. Sautter, E. T., & Leisen, B. (1999). Managing stakeholders: A tourism planning model. Annals of Tourism Research, 26(2), 312–328. https://doi.org/10.1016/S0160-7383(98)00097-8
  3. Sheehan, L. R., & Ritchie, J. R. B. (2005). Destination stakeholders: Exploring identity and salience. Annals of Tourism Research, 32(3), 711–734. https://doi.org/10.1016/j.annals.2004.10.013
  4. Byrd, E. T. (2007). Stakeholders in sustainable tourism development and their roles: applying stakeholder theory to sustainable tourism development. Tourism Review, 62(2), 6–13. https://doi.org/10.1108/16605370780000309

Gunakan Teori Ini dengan Tepat

Review AI TourAcad mengevaluasi apakah Anda menggunakan teori ini secara benar dan konsisten dalam proposal.

Mulai Review Gratis