Kenapa Rumusan Masalah Sering Jadi Titik Lemah
Rumusan masalah adalah bagian yang paling sering ditulis terburu-buru, padahal ia menentukan arah seluruh BAB berikutnya — kerangka teori, metode, sampai instrumen penelitian semuanya seharusnya menjawab pertanyaan yang dirumuskan di sini. Rumusan masalah yang kabur biasanya punya satu dari tiga masalah: tidak berbasis gap yang jelas, terlalu luas untuk dijawab dalam satu penelitian, atau tidak sinkron dengan judul dan tujuan penelitian.
Ciri rumusan masalah yang lemah: pertanyaannya bisa dijawab hanya dengan mencari di internet, tanpa perlu penelitian sama sekali.
Tiga Sumber Gap yang Bisa Dipakai
- Gap teoritis — ada dua teori atau temuan penelitian yang saling bertentangan soal suatu fenomena, dan belum jelas mana yang berlaku di konteks Anda.
- Gap empiris — fenomena sudah diteliti di konteks/populasi lain, tapi belum diuji di konteks/populasi yang Anda tuju (industri berbeda, wilayah berbeda, generasi berbeda).
- Gap metodologis — penelitian sebelumnya sudah menjawab pertanyaan serupa, tapi dengan metode yang punya keterbatasan (sampel kecil, hanya kualitatif, dst.) yang bisa Anda perbaiki.
Sebutkan gap ini secara eksplisit di paragraf pembuka rumusan masalah, bukan hanya di kajian pustaka — reviewer dan dosen penguji ingin tahu kenapa penelitian ini perlu ada sejak baris pertama.
Struktur yang Disarankan
- Fenomena — satu-dua kalimat tentang kondisi/isu yang relevan, didukung data atau observasi awal.
- Gap — apa yang belum dijelaskan/belum konsisten dari literatur atau praktik yang ada.
- Pertanyaan penelitian — dirumuskan spesifik, terukur, dan selaras dengan variabel yang akan diteliti.
Contoh pertanyaan yang cukup tajam: "Bagaimana pengaruh kemudahan penggunaan (perceived ease of use) terhadap minat penggunaan aplikasi X pada generasi Z, mengingat literatur menunjukkan hasil yang tidak konsisten antara kelompok usia?"
Kesalahan yang Paling Sering Ditemukan
- Rumusan masalah berupa pernyataan, bukan pertanyaan yang bisa dijawab lewat data.
- Variabel yang disebut di rumusan masalah tidak muncul lagi di kerangka konseptual atau hipotesis.
- Terlalu banyak pertanyaan (lebih dari 3–4) sehingga penelitian jadi tidak fokus.
Rumusan masalah yang solid biasanya bisa dibaca ulang dan langsung menjawab: apa yang diteliti, kenapa perlu diteliti, dan di konteks siapa/apa penelitian ini dilakukan.